Pakaian Tradisional Wanita Indonesia
Pakaian Khas Wanita Indonesia "Kebaya"
Indonesia tidak bisa lepas dengan keberagaman budaya di
dalamnya. Kleden menyatakan bahwa antara kebudayaan dan kehidupan tidak
dapat dipisahkan.
Oleh karena itu, budaya dapat mengalami konstruksi dan
reproduksi di berbagai bagian budaya yang didasari oleh usaha untuk
menghadirkan budaya masa lalu ke kehidupan saat ini.
Seperti yang kita tahu bahwa keberagaman budaya di
Indonesia mencakup banyak hal seperti, ritual agama, alat musik, tarian,
makanan, hingga pakaian tradisional. Pakaian tradisional sendiri memiliki
berbagai macam jenis yang sesuai dengan wilayah daerahnya.
Salah satu pakaian tradisional yang dijadikan sebagai
pakaian nasional adalah kebaya yang berasal dari Jawa dan Bali. Walaupun tidak
digunakan setiap saat seperti jaman dahulu, tetapi sampai saat ini kebaya masih
kerap digunakan oleh umat hindu untuk melakukan persembahyangan ke Pura atau
digunakan untuk acara lainnya. Berkembangnya zaman modern saat ini, membuat
kebaya tidak lagi dibuat dengan model yang sederhana.
Banyak variasi dan modernisasi bentuk, warna, hiasan yang
membuatnya lebih bermacam-macam. Lalu, apakah keberagaman model kebaya saat ini
dapat menjaga eksistensinya di masyarakat? dan Apakah pemaknaan kebaya sejak
jaman dahulu masih ada?
Tidak hanya diketahui oleh masyarakat Indonesia, keunikan
kebaya nyatanya juga dilirik oleh beberapa indonesianis. Victoria Cattoni
seorang sarjana seni rupa dari Universitas Charles Darwin ini menjadi salah
satu orang yang tertarik untuk membahas kebaya, dengan judul penelitian "
Through the Kebaya: A Cross-cultural project Indonesia- Australia" pada
Juli 2004.
Dalam tesisnya tersebut, beliau menjelaskan bahwa ia
menggunakan kebaya atau blus tradisional untuk kaum perempuan di Indonesia
sebagai alat untuk mengeksplorasi bentuk identitas budaya. Riset tersebut juga
tidak hanya membahas bagaimana kebaya menjadi identitas budaya, tetapi juga
melihat kaitannya akan aspek feminisme.
Kebaya yang dijadikan sebagai kostum nasional di era
Soekarno tahun 1940-an ini, dilihat sebagai lambang nilai tradisional dan peran
perempuan. Cattoni menjelaskan bahwa kebaya melambangkan emansipasi wanita di
Indonesia yang diawali oleh sosok Raden Ajeng Kartini. Hal ini dibuktikan
dengan adanya perayaan tahunan untuk memperingati Hari Kartini.
Komentar
Posting Komentar